Organisasi shalawat yang berdiri pada tahun 2007 lalu, Tepatnya di desa Beji-Pakal-Surabaya. Yang didirikan oleh remaja-remaja alit islam yang terbentuk dalam kelompok ”Islamic Boys” Yang pimpinan/diasuh oleh AL USTADZ JUFRI yang merupakan murid/santri dari KH. RIDWAN YASIN Pengasuh ponpes Darussholihin dari JAWA TENGAH.
AL MUNFIDAH
Organisasi shalawat yang berdiri pada tahun 2007 lalu, Tepatnya di desa Beji-Pakal-Surabaya. Yang didirikan oleh remaja-remaja alit islam yang terbentuk dalam kelompok ”Islamic Boys” Yang pimpinan/diasuh oleh AL USTADZ JUFRI yang merupakan murid/santri dari KH. RIDWAN YASIN Pengasuh ponpes Darussholihin dari JAWA TENGAH.
Awal mulanya terbentuknya organisasi ini disebabkan oleh semakin hilangnya kegiatan-kegiatan keagamaan di desa Beji, dan sudah banyaknya remaja-remaja senior yang sudah tidak aktif lagi di dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, dan kurangnya support dari seluruh warga desa Beji. Disamping itu juga rusaknya akhlak-akhlak sebagian remaja di desa Beji antara lain ; minum-minuman keras/mabuk, judi, tidak ada sopan-santun dll. Dan itu semua berlangsung cukup lama (vacuum).
Dengan kondisi yang seperti itu, kami “Islamic Boys” yang dipimpin langsung oleh Ustadz Jufri mendirikan Organisasi Shalawat Modern yang bernama
AL-MUNFIDAH yang tidak lain adalah dimaksudkan supaya memberikan faedah untuk desa kami yang tercinta ini yang sudah lama vacuum dengan kegiatan-kegiatan keagamaan dan agar dapat memberikan angin segar pada desa kami,
Meskipun banyak sekali hambatan dan rintangan yang menghadang, kami tidak akan mundur untuk mensyiarkan agama dijalan Allah. Dengan ridho Allah SWT dan persatuan, kesatuan, kebersamaan, kegigihan yang kita jalin “Pasukan Islamic Boys”, dan dengan hambatan dan rintangan yang kita hadapi akhirnya kita dapat mengambil pelajaran besar dari kejadian itu, Akhirnya terbentuk tim yang sangat solid untuk berdakwah di jalan Allah lewat tembang-tembang yang kami lantunkan bersama AL-MUNFIDAH.
Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin, Dengan terbentuknya AL-MUNFIDAH di tengah-tengah warga desa Beji memberikan kontribusi yang sangat baik bagi seluruh elemen masyarakat. Dan beji yang sebelumnya tenggelam akan kegiatan-kegiatan keagamaannya kini bisa bangkit kembali seraya merpati yang lepas dari sarangnya yang terbang bebas di jagad raya. Yang dulunya remajanya mabuk, judi, tidak ada sopan-santun dsb. Kini sudah banyak yang ingat kepada Allah SWT.
Dan nama AL-MUNFIDAH sudah semerbak wangi, sewangi minyak kasturi di kancah dunia musik shalawat DI JAWA TIMUR.
Sedikit tentang asal-muasal AL-MUNFIDAH ini, mudah-mudahan dapat memberikan motivasi kepada sahabat-sahabat semua untuk selalu mensyiarkan agama Allah di atas bumi ini dengan penuh semangat……OK!!!
Selasa, 01 Juni 2010
AL MUNFIDAH
Cobaan Umat Karena Abaikan Sholawat
22 Mar 2006 Oleh sufinews -Tragedi demi tragedi ditunai ummat Islam, mulai dari bencana dimana-mana hingga, ketika negeri-negeri Islam diserang oleh AS dan sekutunya, lalu berujung pada penghinaan terhadap Nabi. Karikatur, relief, gambar Nabi, telah meruyak kemarahan ummat seluruh dunia.
Cobaan Umat Karena Abaikan Sholawat
22 Mar 2006 Oleh sufinews -Tragedi demi tragedi ditunai ummat Islam, mulai dari bencana dimana-mana hingga, ketika negeri-negeri Islam diserang oleh AS dan sekutunya, lalu berujung pada penghinaan terhadap Nabi. Karikatur, relief, gambar Nabi, telah meruyak kemarahan ummat seluruh dunia.
Negeri-negeri Islam yang membujur di belahan selatan dunia, yang dikategorikan negeri miskin, di tengah arus globalisasi, semakin termiskinkan. Kekalahan structural dalam berbagai piranti, infrastruktur, dan teknologi telah membuat ummat Islam hanya menjadi sasaran konsumen negara-negara industri. Belum lagi Mafia yang menguasai separo aktivitas internasional, yang menghalalkan segala cara.
Kemudian Ummat terbelah menjadi kekuatan-kekuatan, kelompok-kelompok, kebudayaan-kebudayaan, tidak jarang satu sama lain saling tarik menarik dan bertentangan. Ada yang merespon kekuatan global dengan ekstrimitas dan radikalisme, ada yang merespon dengan integralisme dan adaptasi dengan globalisasi, ada yang merespon dengan sikap moderat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar Islam, ada yang merespon dengan ketakberdayaan mengikuti arus dengan sikap acuh tak acuh atas perkembangan planet bumi. Tapi peta tersebut sangat menarik bagi dunia luar untuk memposisikan ummat Islam di seluruh dunia sebagai obyek, bukan sebagai subyek yang positif bagi masa depan umat manusia.
Tetapi mari kita jenguk kondisi ummat kita sebenarnya. Tahun-tahun seperempat abad terakhir, ummat Islam mengalami sock yang luar biasa, antara modernisasi, tradisi, dan nilai-nilai agama. Diantara korban-korbannya adalah spiritualitas ummat yang mencapai titik jenuh luar biasa, sampai akhirnya terekspresikan dalam berbagai aktivitas yang cukup menyimpang dan mengerikan: Gerakan spiritual yang mengatasnamakan gerakan ruhani Islam, seperti munculnya lembaga-lembaga atau perorangan yang menjanjikan "Puncak Spiritual" melalui aktivitasnya. Ternyata, tidak lebih dari aktivitas metafisika, mistik, dan keparanormalan yang dibungkus dengan nuansa dzikir, ilmu-ilmu hikmah tertentu dan lebih sadis lagi menggunakan singkretisme kebatinan semua agama dalam satu format spiritual.
Dampaknya, ummat kehilangan nuansa genial yang murni dan hakiki, yang selama ini dikokohkan oleh para Sufi dari zaman ke zaman mulai sejak era Nabi Muhammad SAW. hingga dewasa ini. Dua pendulum yang kontra dan meruyak aktivitas luhur dunia ruhani kaum Sufi bermunculan: Mereka ramai-ramai mengobarkan semangat anti sufisme, karena dianggap bid'ah di satu sisi, dan di sisi lain muncul kelompok penyimpang tasawuf yang mengatasnamakan dunia Sufi.
Dua kelompok anatagonis inilah yang pada saat bersamaan, merasa paling Islami dan paling benar, dan di saat yang lain meruntuhkan semangat kecintaan kepada Allah dan Rasululullah SAW, dalam arti yang sesungguhnya, bukan dengan cara emosi, reaksi dan arogansi.
Lalu semangat yang hakiki mengenai Mahabbatullah dan Mahbbatur-Rasul terbuang dalam arus pembelaan yang bernuansa pinggiran, tidak masuk dalam jantung hati yang sesungguhnya.
Sahara Kegersangan
Mari kita jenguk jendela kita semua, agar melihat ruang batin di kedalaman jiwa kita. Benarkah kita telah membuktikan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Benarkan kita telah mendenyutkan jantung kita setiap saat, setiap waktu, setiap ruang dan gerak, bersama dzikrullah dalam hati kita? Seberapa persen jumlah ummat Islam seluruh dunia yang melakukan aktivitas mulia dalam jiwanya? Apakah aktivitas mulia itu hanya dilihat dari yang tampak dipermukaan dalam "teater ummat Islam"? Dalam "Gaya hidup beragama"? Dalam "sok religi" atau "Style Islami" di media massa dan kepentingan-kepentingan riya’ politik? Kenapa tidak ada upaya untuk menjenguk kegersangan demi kegersangan yang menimpa jiwa ummat ini?
Rupanya ummat seperti kehilangan induk ketika berada di Padang Mahsyar. Gerakan demi gerakan, tak lebih dari sebuah kebingungan, keresahan dan ketakutan. Di hamparan Mahsyar ummat mencari Syafaat, dari satu Nabi ke Nabi lain, lalu berujung pada Nabi Muhammad SAW. Itulah fakta hari ini, pencarian cinta kepada Nabi di tengah kegersangan Mahsyar Dunia, dalam kegundahan luar biasa. Lalu muncul berbagai image, dalam bebagai bentuk, antara lain:
1. Dengan menyatakan sebagai pembela Nabi SAW, tetapi tidak mencintai Nabi SAW, dalam arti yang hakiki.
2. Menyatakan sebagai pembela ahlul Bait sebagai ideology dan organisasi saja.
3. Memanggil-manggil Nabi dengan jeritan-jeritan sebagai aktivitas spiritual, dan menganggapnya sebagai puncak spiritual.
4. Merasa mendapatkan wahyu dari malaikat, lalu mengaku sebagai Nabi Baru, yang selaras dengan Nabi Muhammad saw.
5. Memanfaatkan simbol-simbol Kenabian sebagai gerakan massal, yang akhirnya berujung pada ekonomi dan politik.
6. Merasa paling dekat dengan Nabi, lalu dijadikan symbol spiritual, hanya karena nasab dan keturunan.
7. Merasa paling Islami dengan cara meniru gaya hidup lahiriyah Nabi, Syariat Nabi, sementara Qalbu Nabi, Hakikat Islam, Ruhul Islam, tidak dijadikan teladan, akhirnya hanya menuai kefasikan dan kegersangan hati.
8. Dan kalau terurai sebenarnya ada 72 kelompok Islam yang merasa telah benar meneladani Nabi, ternyata jauh dari keselamatan dan kebenaran.
Elemen kelompok itu hanyalah ilustrasi, yang bisa kita jadikan pelajaran paling berharga. Faktanya, kelompok-kelompok itu tidak mencintai Nabi dalam arti sesungguhnya, sehingga Syafaat Nabi untuk ummat Islam di dunia, tidak bisa mereka terima secara total sebagaimana di suasana di padang mahsyar kelak.
Coba dikalkulasi dalam statistik. Berapa persen dari jumlah ummat seluruh dunia yang masih terus membaca sholawat Nabi setiap harinya? Berapa kali setiap hari mereka membaca sholawat Nabi? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca setiap kita sholat, karena dalam sholat ada bacaan sholawat? Apakah sholawat Nabi hanya dibaca ketika ada maulid Nabi? Apakah sholawat hanya jadi nyanian-nyanyian dan ekspressi seni dan hiburan, sebagaimana dalam gerakan musikalisasi sholawat?
Benarkah bibir anda menggetarkan sholawat sepanjang saat? Benarkah "rasa" sholawat telah menghujam dalam kecintaan luhur di jantung hati anda? Benarkah anda merasakan kedekatan Nabi dengan diri anda, seakan-akan Nabi di hadapan anda? Apakah anda mencintai sekadar sebagai statemen, pengakuan, lips service, atau memang sampai pada kecintaan dalam keyakinan, haqqul yaqin di hati?
Mari kita mengingat apa yang dikatakan Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam kitab Al-Hikam, "Apa yang muncul dalam fenomena lahir sesungguhnya akibat dari fenomena batin."
Jika batin kita tidak mencintai Nabi, atau sekadar "beban kewajiban" saja bersholawat Nabi, maka yang muncul di fenomena lahiriyah hanyalah kecintaan plastik yang palsu atas Nabi SAW. Jika hati kita tak pernah beruntun mendetakkan sholawat Nabi, maka sholawat yang kita ungkapkan pada Nabi hanyalah ekspressi kering dari bibir kita yang tak pernah basah dengan dzikir dan sholawat.
Jangan sampai kita merasa dekat dengan Nabi, tapi hati kita jauh dari Nabi.
Jangan sampai kita merasa membela Nabi, tapi jiwa kita tidak pernah sholawat Nabi.
Jangan sampai kita berharap sholawat Nabi, tapi sesungguhnya kita tidak pernah menaruh rasa hormat dalam jantung hakiki.
Jangan sampai sampai kita merasa meneladani Nabi, tapi kesombongan, riya', pengakuan-pengakuan menjadi gaya hidupnya yang dibungkus ke-Islamannya untuk menyembunyikan kemunafikannya.
Jangan sampai anda merasa memakai baju-baju, ornament, life style, seperti Nabi, namun sesungguhnya baju hakiki, ornament jiwa, life style ruhani yang sesungguhnya compang camping di jiwa anda.
Jika hal itu tetap ada pada diri anda, maka cobaaan demi cobaan di Padang Mahsyar dunia ini, senantiasa merobek sejarah kita, mengoyak kemuliaan Nabi, merobohkan istana yang sesungguhnya dalam jiwa kita. Inna Lillahi wa-Inna Ilaihi Roji'un.
Mari kita gerakkan jantung kita, bersama Allah dan RasulNya, kapan, dimana, bagaimana, dalam kondisi apa, dalam situasi apa, agar syafaat beliau melimpah dengan Cahaya, dan kita saksikan bersama "Tidaklah Kami mengutusmu, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta…" . Amin.
Sunan Ampel / Raden Rachmat
PRABU Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ''kesibukan'' harian kaum bangsawan --pun rakyat kebanyakan.
Sunan Ampel / Raden Rachmat
PRABU Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ''kesibukan'' harian kaum bangsawan --pun rakyat kebanyakan.
Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ''Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,'' kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ''Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,'' Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa --kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari.
Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada 1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 --tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang --dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ''salat'' diganti dengan ''sembahyang'' (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ''langgar'', mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri --orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ''Sunan Ampel'' mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ''Moh Limo''. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
''Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?'' kata Sunan Ampel. ''Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.'' Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ''Ngulama Ampel Seda Masjid''. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.
Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.
Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.